🌞 Keberkahan Ilmu Dari Guru

menghormatidan menaati guru. Guru adalah pewaris ilmu dan menjadi salah satu jalan menuju keberkahan ilmu. Ilmu yang berkah adalah ilmu yang dimanfaatkan dan diamalkan dalam kehidupan sebab bisa jadi suatu saat kalian lebih pintar dari guru-guru kalian. Meskipun demikian, kalian harus tetap rendah hati dan menghormatinya, karena pada Mahad Aly - Pelawak yang juga berprofesi menjadi pendakwah, H. Memed Mini menceritakan pengalamannya saat menjadi santri Abah Noer di Pesantren Asshiddiqiyah dan tentang betapa besarnya keberkahan ilmu dari seorang guru.Bagaimanapun guru adalah tetap guru, tidak ada yang bisa menghilangkan jasa dan sumbangsihnya dalam menghantarkan seseorang mencapai ilmu. KeberkahanIlmu Bergantung pada Keridhoan Guru pasti sang guru pun juga akan cinta kepada muridnya tersebut dan akan selalu mendoakan yang terbaik untuknya keberkahan ilmu tergantung pada keridhoan guru,apabila guru sudah ridho mengajar si murid walaupun si murid tidak mengerti apa yang diterangkan oleh sang guru pasti akan barokah juga HormatiGuru, agar Ada Keberkahan Ilmu Sabtu, 21 April 2018 | 12:30 WIB Kiai Abdul Basith Kiai Abdul Basith. seorang murid atau santri mesti mengutamakan serta merawat keberkahan ilmu," terang Kiai Abdul Basith saat menyampaikan tausiyahnya di Pesantren Nurul Ulum, Palengaan Daya, Palengaan, Pamekasan, Jumat (28/4) malam. 7Sv2A6. JAKARTA — Sejarah mencatat betapa hormatnya para ilmuwan muslim atau ulama pada gurunya. Mengapa, rasa hormat kepada sang guru akan mendatangkan rahmat dan kemuliaan. Tersebutlah seorang ulama yang disegani bahkan oleh penguasa ketika itu. Ia adalah Fakhruddin al-Arsabandi. Dalam ketenarannya, ia mengungkap sebuah rahasia atas rahmat Allah yang luar biasa didapatkannya. “Aku mendapatkan kedudukan yang mulia ini karena berkhidmat melayani guruku,” ujar sang Imam. Ia menuturkan, khidmat yang dia berikan kepada gurunya sungguh luar biasa. Gurunya Imam Abu Zaid ad-Dabbusi benar-benar dilayaninya bak seorang budak kepada majikan. Ia pernah memasakkan makanan untuk gurunya selama 30 tahun tanpa sedikit pun mencicipi makanan yang disajikannya. Begitulah cara orang-orang terdahulu mendapatkan keberkahan ilmu dari memuliakan gurunya. Mencintai ilmu berarti mencintai orang yang menjadi sumber ilmu. Menghormati ilmu berarti harus menghormati pula orang yang memberi ilmu. Itulah guru. Tanpa pengajaran guru, ilmu tak akan pernah bisa didapatkan oleh si murid. Dalam literatur pendidikan Islam, jelas terpampang bahwa pelajaran pertama yang diterima seorang murid adalah bab Adabu Mu’allim wa Muta’allim adab antara guru dan murid. Dari kitab manapun, mestilah pembelajaran dimulai dari bab ini. Si murid perlu dipahamkan, dari siapa ia menerima ilmu karena dalam pembelajaran ilmu-ilmu Islam sangat memperhatikan sanad validitas. Berbeda dengan sesuatu yang bersifat nasihat. Nasihat tak perlu memandang dari mulut siapa keluarnya nasihat itu. Berlakulah di sana pepatah Arab, unzur ma qala wala tanzur man qala lihatlah kepada apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang mengatakannya. Namun, bagi ilmu-ilmu Islam sejenis tafsir, hadis, akidah, dan cabang ilmu sejenisnya, perlu diperhatikan dari siapa si murid menerimanya. Inilah yang dipesankan Muhammad bin Sirin, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka lihatlah dari siapa engkau mengambil agamamu.” Fakhruddin al-Arsabandi benar-benar memperhatikan sang guru sebagai tempat ia mengambil ilmu. Ia tak ubahnya seperti budak di hadapan gurunya. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh Ali bin Abi Thalib RA yang pernah mengatakan, “Siapa yang pernah mengajarkan aku satu huruf saja, maka aku siap menjadi budaknya.” Ali RA mencontohkan, sekecil apa pun ilmu yang didapat dari seorang guru tak boleh diremehkan. Imam Syafi’i pernah membuat rekannya terkagum-kagum karena tiba-tiba saja ia mencium tangan dan memeluk seorang lelaki tua. Para sahabatnya bertanya-tanya, “Mengapa seorang imam besar mau mencium tangan seorang laki-laki tua? Padahal masih banyak ulama yang lebih pantas dicium tangannya daripada dia?” Imam Syafi’i menjawab, “Dulu aku pernah bertanya padanya, bagaimana mengetahui seekor anjing telah mencapai usia baligh? Orang tua itu menjawab, “Jika kamu melihat anjing itu kencing dengan mengangkat sebelah kakinya, maka ia telah baligh.” Hanya ilmu itu yang didapat Imam Syafi’i dari orang tua itu. Namun, sang Imam tak pernah lupa akan secuil ilmu yang ia dapatkan. Baginya, orang tua itu adalah guru yang patut dihormati. Sikap sedemikian pulalah yang menjadi salah satu faktor yang menghantarkan seorang Syafi’i menjadi imam besar. BACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini Melihat pelajar hari ini entah itu siswa, mahasiswa, ataupun santri rasanya berbeda dengan pelajar zaman dulu. Pelajar dulu mereka sangat ta’zhim menghormati guru dan dengan berkah itulah mereka mudah mendapat ilmu. Namun melihat pelajar sekarang rasanya tidak demikian berinteraksi dengan guru seperti tidak ada sopan-sopannya gitu. Sehingga ilmu yang dipelajari sukar didapatkan dan jadilah pelajar itu “laa `ilma wa laa adab” yang artinya tidak memiliki ilmu dan adab. Kalau kata orang sunda mah “nya bangor, nya tolol”. Padahal guru merupakan sosok yang harus dihormati oleh pelajar. Ia tidak akan mendapat ilmu kecuali dengan mengagungkan guru. Bisa saja mendapat ilmu tapi keberkahan dan manfaatnya tidak ada jika tidak menghormati guru. Sebab keberkahan ilmu memiliki dua ciri yaitu ilmu yang diamalkan dan disebarkan. Setelah melihat hal yang demikian di lingkungan terdekat. Saya menelusuri lebih lanjut dan ternyata memang ada penelitian menyebutkan bahwa sejak tahun 2000 pelajar mengalami penurunan empati 40% dibanding 20-30 tahun lalu. Lantas bagaimana kita menanggapi hal ini? Apakah bersikap “ya udah lah yaa, toh udah ada kepastiannya dari nabi Muhammad ﷺ bahwa generasi ke generasi itu akan mengalami penurunan kualitas”?. Namun saya pernah mendengar penjelasan guru saya Kyai Jajang Saepul Abidin, kurang lebihnya kita diberi keterangan semacam itu justru supaya kita tidak termasuk di dalamnya. Well. Supaya kita tidak termasuk generasi yang tidak beradab, kita cari dulu akar masalahnya, dimulai dengan pertanyaan “mengapa para pelajar sekarang tidak beradab?” Mungkin bisa banyak faktor, salah satunya bisa saja karena tidak diajarkan. Sehingga ia tidak tahu adab baik yang berujung munculnya generasi amoral. Sudahkah kita tahu bahwa duduk di bangku guru itu tidak boleh? atau berjalan di depan guru itu tidak sopan? atau meletakkan sesuatu di atas barang guru itu tidak diperkenankan? Baik, kalau kita bahas teknis tulisan ini akan sangat panjang pasti berujung tidak akan dibaca sama sekali. Karena sudah teu keyeng manten liatnya juga. Tulisan ini hanya sekedar pemantik agar kita bisa mempelajari lebih dalam dan lebih lanjut tentang tata krama dalam menuntut ilmu. Sedangkal pengetahuan saya setidaknya ada 3 kitab yang membahas adab dalam menuntut ilmu untuk kita pelajari, yakni Adabu al-` ālim Wa al-Muta`allim karya Hasyim Asy’ari Ta`līmu al-Muta`allim karya syaikh Az-Zarnuji At-Tibyān fī adabi ḥamalati al-Qur’an karya imam An-Nawāwī, Kita bisa belajar ketiga kitab tersebut secara talaqi kepada guru-guru kita yang sudah paham ini sangat disarankan, atau kita bisa sekedar membaca terjemahnya terlebih dahulu. Kemudian nanti dicocokkan dengan penjelasan para guru. Misalnya kita bisa membeli buku terjemah Ta`līmu al-Muta`allim terbitan lirboyo press, atau buku Nurul Bayan terjemah dari kitab At-Tibyān yang disusun oleh Ustadz Roisudin dari Hanifa Darul Hidayah. Kemudian dapat dikaji entah itu dengan cara ngaji ngalogat ala pesantren, ikut seminar, baca buku, atau apapun itu kemasannya, intinya kita belajar. Dengan harapan kita dan generasi setelahnya menjadi generasi yang beradab sebab dengan adab inilah kita bisa menjadi manusia yang berharga. Ali Bahtiar Co-Founder Inspiring Generation Navigasi pos Keberkahan adalah sesuatu yang sulit diukur dengan parameter yang bersifat khissi konkret. Para ulama mendefinisikan البَرَكَةُ dengan النماء والزيادة bertambah dan berkembang. Al Asfahani mendefinisikan بَرَكَةٌ’, yaitu tsubut alal khoir al ilaahi fii syai’, yaitu menetapnya kebaikan dari Allah kepada sesuatu. Definisi lain berkah adalah al-khair al-katsir al-mutayazid al-mutadawim, yaitu kebaikan yang banyak terus menerus bertambah”. Beberapa faktor yang mempengaruhi keberkahan ilmu, yaitu adab orang tua kepada pendidik, adab dari sang anak dan adab seorang pendidik itu sendiri, apakah ia mendidik masih bertendensi pada keduniawian. Dari beberapa faktor tersebut, mengapa semua itu terkaitkan dengan adab? Jawabannya Adab atau akhlaqul karimah adalah perintah Allah Swt. dan Rasul-Nya secara syar’i, banyak sekali hadis ataupun riwayat yang menjelaskan tentang khusnul khuluq atau adab, bahkan sebagiannya Rasulullah Saw. kaitkan dengan tingkat keimanan seseorang dengan hari akhir. Sebagaimana hadis, مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ “Barang siapa yang beriman dengan hari akhir maka hendaklah memuliakan tetangganya, dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah memuliakan tamu.” Hr. Bukhari dan Muslim Pentingnya Khusnul Khuluq atau ta’addub kepada orang yang berilmu. Allah menegaskan dalam sebuah ayat, يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ “Allah Swt. mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat di atas yang lain”. Al Mujadilah 11 Ayat tersebut menjelaskan tentang kemuliaan orang berilmu, maka adalah sebuah pelanggaran kepada Allah Swt. apabila tidak memuliakan orang yang Allah angkat/muliakan derajatnya. Adapun pula pendidik adalah orang yang dikatakan Allah, خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ Yaitu orang terbaik dimana ia mengajarkan al Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain. Dari hadis itu Allah statuskan para pendidik sebagai khairunnas, sebaik-baik manusia. Baca juga Pendidikan yang Memanusiakan Pendidik juga adalah manusia yang disabdakan Rasulullah Saw. “Sesungguhnya Allah, para malaikat Nya, penduduk langit dan bumi sampai semut di sarangnya dan ikan di lautan turut mendoakan kebaikan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia “ HR. At-Tirmidzi Bilamana orang tua tiada lagi ihtirom kepada mu’allim, bisa dikatakan bahwa ia melawan semesta, padahal semesta telah memuliakannya. Konsep yang diterapkan para mu’allim dalam pendidikan khususnya kuttab yaitu, “الأدب قبل العلم و الإيمان قبل القرآن” Adab sebelum ilmu, iman sebelum Qur’an Setiap orang tua menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang beradab, hal ini tidak akan tercapai bilamana tidak ada qudwah dari orang tua. Metode teladan yang baik’ adalah cara yang efektif untuk menumbuhkan adab anak. Salah satu qudwah shalihat yaitu menempatkan adab orang tua, ihtirom kepada mu’allim sang anak. Sebagaimana Ali bin abi Thalib pernah berkata, “Aku adalah hamba bagi orang-orang yang mengajarkan ilmu walaupun satu huruf”. Dari perkataan Ali Radhiyallahu anhu dapat disimpulkan, bahwa orang yang mengajarkan ilmu walaupun satu huruf, maka ialah tuannya, Sedangkan para pendidik mengajarkan tak hanya satu huruf. Baca juga Mengajar Era Lalu dimana letak keberkahan ilmu sang anak? Pertama, sebuah motivasi bagi para mu’allim, di antara yang menguatkan seorang pendidik adalah sikap wali santri yaitu ihtiram kepada mu’allim sang anak. Bilamana mereka menguatkan, mendukung penuh terhadap proses pendidikan sang anak, maka hal itu menjadi motivasi bagi mu’allim, sehingga hasil tarbiyah kepada anak didik pun akan semakin kuat. Kedua, syukur kepada Allah. من لا يشكر الناس لا يشكر الله’ Barangsiapa yang tidak berterimakasih kepada orang yang berjasa mendidik anak kita, dia belum berterimakasih kepada Allah Swt. Maka dari itu, penting sekali berterimakasih kepada siapapun yang berbuat baik dan Allah akan tambahkan nikmat-Nya kepadanya, لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu…” Apabila seseorang telah bersyukur, maka sempurnalah kesyukuran kita kepada orang-orang yang telah berbuat baik. Wallahu a’lam. Source Ceramah Dr. Hakimuddin Salim, Lc., disampaikan saat POMG Kuttab Ibnu Abbas Klaten, Jum’at 18 Desember 2021. Redaktur Luthfi Nur Azizah

keberkahan ilmu dari guru